Selasa, 03 Desember 2013



STRATEGI DAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN LAHAN
KERING MENDUKUNG PENGADAAN PANGAN
NASIONAL
A. Abdurachman, A. Dariah, dan A. Mulyani
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Jalan Ir. H. Juanda No. 98 Bogor 16123
ABSTRAK
Peningkatan produksi bahan pangan nasional berjalan relatif lambat dibandingkan dengan permintaannya karena adanya berbagai kendala yang sulit diatasi, seperti konversi lahan sawah, persaingan dalam penggunaan air, banjir, dan longsor. Salah satu peluang yang cukup besar tetapi sering terabaikan adalah pemanfaatan lahan kering yang tersedia cukup luas dan secara teknis sesuai untuk pertanian. Lahan potensial tersebut akan mampu menghasilkan bahan pangan yang cukup bila dikelola dengan menggunakan teknologi yang efektif dan strategi pengembangan yang tepat. Teknologi pengelolaan lahan kering telah tersedia, meliputi konservasi, peningkatan kesuburan kimiawi, fisik dan biologi, pengelolaan bahan organik, dan irigasi suplemen. Strategi untuk mendayagunakan lahan kering yang berpotensi adalah: a) identifikasi dan delineasi lahan yang sesuai untuk pertanian tanaman pangan, b) seleksi teknologi pertanian tepat guna, c) diseminasi teknologi secara intensif, dan d) peningkatan penelitian pertanian lahan kering.
Kata kunci: Lahan kering, pengelolaan lahan, produksi pangan
Laju peningkatan produksi bahan pangan nasional terutama beras berjalan relatif lambat dibandingkan dengan kebutuhan pangan rakyat yang terus meningkat akibat pertumbuhan penduduk. Hal ini terbukti dengan masih diperlukannya impor beras walaupun hanya sekitar 262 ribu ton pada tahun 2006 (Departemen Pertanian 2008), serta sesekali terjadi kekurangan bahan pangan di wilayah wilayah kantong kemiskinan, seperti dipelosok NTT, NTB, dan Papua. Kelambatan peningkatan produksi pangan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain konversi lahan sawah dan persaingan penggunaan air, selain bencana banjir dan longsor. Bahan pangan terutama beras sebagian besar diproduksi di lahan sawah beririgasi teknis dengan tingkat kesuburan tanah cukup tinggi. Karakteristik budi daya padi sawah seperti itu membatasi peluang peningkatan produksi beras melalui perluasan areal sawah, karena sempitnya lahan cadangan yang sesuai untuk dijadikan sawah dan makin ketatnya persaingan penggunaan air dengan industri, pertambangan, rumah tangga, dan lainnya. Di sisi lain, konversi lahansawah ke nonpertanian makin sulit dikendalikan. Selama periode 19791999, konversi lahan sawah mencapai 1,63 juta ha, dan satu juta ha di antaranya terjadi di Pulau Jawa (Isa 2006). Oleh karena itu, perlu upaya lain untuk meningkatkan produksi bahan pangan nasional, salah satunya adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering, baik yang telah menjadi lahan pertanian maupun yang belum digunakan. Pemanfaatan lahan kering untuk pertanian sering diabaikan oleh para pengambil kebijakan, yang lebih tertarik pada peningkatan produksi beras pada lahan sawah. Hal ini mungkin karena ada anggapan bahwa meningkatkan produksi padi sawah lebih mudah dan lebih menjanjikan
dibanding padi gogo yang memiliki risikokegagalan lebih tinggi. Padahal lahan kering tersedia cukup luas dan berpotensi untuk menghasilkan padi gogo > 5 t/ha.

MASALAH PEMANFAATAN LAHAN KERING UNTUK TANAMAN PANGAN
Permasalahan dalam pengelolaan lahan kering bervariasi pada setiap wilayah, baik aspek teknis maupun sosial-ekonomis. Namun, dengan strategi dan teknologi yang tepat, berbagai masalah tersebut dapat diatasi.

STRATEGI PENGELOLAAN
LAHAN KERING
Pertanian lahan kering tidak memerlukan banyak air, seperti halnya budi daya padi sawah, sementara ketersediaan lahan kering masih luas. Selain itu, teknologi pengelolaan lahan kering cukup banyak tersedia. Namun, pemanfaatan kedua komponen tersebut dan pelaksanaannya di lapangan memerlukan perencanaan dan strategi yang tepat.

IDENTIFIKASI LAHAN YANG SESUAI
Cara yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi lahan yang sesuai untuk pertanian, terutama lahan alang-alang dan semak belukar adalah dengan menggunakan peta penggunaan lahan skala 1:250.000 yang ditumpangtepatkan
dengan peta arahan tata ruang pertanian. Dengan cara ini, diperoleh data tentang lahan kering cadangan seluas 22,39 juta ha, yang terdiri atas 7,08 juta ha sesuai untuk tanaman pangan semusim dan 15,31 juta ha untuk tanaman tahunan.
Tabel 1. Luas lahan kering yang sesuai untuk pertanian.
Provinsi                                   Dataran rendah (ha)                                                                 Dataran tinggi (ha)
                                Tanaman                  Tanaman  Total                        Tanaman                  Tanaman  Total        Total
Semusim                  Tahunan                                  Semusim                  Tahunan

Sumatera                  4.899.476                                15.848.203                              20.747.679              1.103.176 992.055                                                                                  2.095.231                                                                               22.842.910
Jawa                         925.412                   3.982.008                                                4.907.420 200.       687 484.960            685.647 5.593.067
Bali dan Nusa Tenggara 1.091.878          1.335.469                                               2.427.347                                58.826 201              .761 260.587 2.687.934
Kalimantan              10.180.151             14.340.956                             24.521.107              592.129 389.          521 981.650 25.502.757
Sulawesi                  1.801.877                               3.664.040                               5.465.917                                70.780 1.134.         320 1.205.100 6.671.017
Maluku dan Papua   4.360.318                                8.282.809                               12.643.127              43.094 233              .981 277.075 12.920.202
Indonesia                 23.259.112             47.453.485                             70.712.597              2.068.692                                3.436.598 5.505.290 76.217.887
Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat (2001).

KESIMPULAN DAN SARAN
Jalan keluar untuk menembus kebuntuan peningkatan produksi bahan pangan nasional adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering melalui: a) peningkatan produktivitas lahan pertanian yang sudah ada saat ini, dan b) perluasan lahan pertanian tanaman pangan dengan memanfaatkan lahan kering terlantar. Di wilayah dataran rendah, lahan yang sesuai untuk pertanian tanaman pangan berupa lahan datar-bergelombang (lereng < 15%), yang luasnya sekitar 23,30 juta ha. Di wilayah dataran tinggi, lahan yang sesuai untuk tanaman pangan mencakup 2,10 juta ha. Namun, lahan tersebut sebagian besar telah digunakan untuk berbagai kepentingan, baik pertanian maupun non pertanian. Lahan kering yang dapat digolongkan sebagai cadangan untuk tanaman pangan semusim tersedia sekitar 7,08 juta ha, yang saat ini berupa lahan alang-alang atau semak-belukar. Upaya pengelolaan lahan kering untuk meningkatkan produksi bahan pangan menghadapi permasalahan teknis dan sosial-ekonomis, antara lain lahan berlereng terjal, kesuburan tanah rendah, kemasaman tinggi, kekurangan air irigasi, dan status kepemilikan lahan tidak jelas. Berbagai masalah tersebut perlu diatasi dengan menerapkan teknologi, kelembagaan, dan kebijakan pemerintah yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurachman, A., A. Mulyani, G. Irianto, dan N. Heryani. 2005. Analisis potensi sumber daya lahan dan air dalam mendukung pemantapan. Ketahanan pangan. hlm. 245264. Dalam Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII, 1719 Mei 2004. Ketahanan Pangan dan Gizi di Era Otonomi Daerah dan Globalisasi LIPI bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik, Departemen Kesehatan, Bappenas, Departemen Pertanian, dan Kementerian Riset dan Teknologi, Jakarta.

Abdurachman, A. dan S. Sutono. 2005. Teknologi pengendalian erosi lahan berlereng. hlm. 103145. Dalam Teknologi Pengelolaan Lahan Kering Menuju pertanian produktif dan ramah lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Adiningsih, J.S. dan M. Sudjadi. 1993. Peranan sistem bertanam lorong (alley cropping) dalam meningkatkan kesuburan tanah pada lahan kering masam. Risalah Seminar Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Adiningsih, J.S. dan M. Sudjadi. 1993. Peranan sistem bertanam lorong (alley cropping) dalam meningkatkan kesuburan tanah pada lahan kering masam. Risalah Seminar Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar