BAB I
PENDAHULUAN
Kebutuhan lahan yang
semakin meningkat, langkanya lahan pertanian yang subur dan potensial, serta
adanya persaingan penggunaan lahan antara sektor pertanian dan non-pertanian,
memerlukan teknologi tepat guna dalam upaya mengoptimalkan penggunaan lahan
secara berkelanjutan (Litbang deptan, 2013).
Untuk dapat
memanfaatkan sumber daya lahan secara terarah dan efisien diperlukan
tersedianya data dan informasi yang lengkap mengenai keadaan iklim, tanah dan
sifat lingkungan fisik lainnya, serta persyaratan tumbuh tanaman yang
diusahakan, terutama tanaman-tanaman yang mempunyai peluang pasar dan arti
ekonomi cukup baik. Data iklim, tanah, dan sifat fisik lingkungan lainnya yang
berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman serta terhadap aspek manajemennya
perlu diidentifikasi melalui kegiatan survei dan pemetaan sumber daya lahan (Litbang
deptan, 2013).
Data sumber daya
lahan ini diperlukan terutama untuk kepentingan perencanaan pembangunan dan
pengembangan pertanian. Data yang dihasilkan dari kegiatan survei dan pemetaan
sumber daya lahan masih sulit untuk dapat dipakai oleh pengguna (users) untuk
suatu perencanaan tanpa dilakukan interpretasi bagi keperluan tertentu (Litbang
deptan, 2013).
Evaluasi lahan
merupakan suatu pendekatan atau cara untuk menilai potensi sumber daya lahan.
Hasil evaluasi lahan akan memberikan informasi dan/atau arahan penggunaan lahan
yang diperlukan, dan akhirnya nilai harapan produksi yang kemungkinan akan
diperoleh. Beberapa sistem evaluasi lahan yang telah banyak dikembangkan dengan
menggunakan berbagai pendekatan, yaitu ada yang dengan sistem perkalian
parameter, penjumlahan, dan sistem matching atau mencocokkan antara kualitas
dan sifat-sifat lahan (Land Qualities/Land Characteritics) dengan kriteria
kelas kesesuaian lahan yang disusun berdasarkan persyaratan tumbuh komoditas
pertanian yang berbasis lahan. Sistem evaluasi lahan yang pernah digunakan dan
yang sedang dikembangkan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan
Agroklimat (Litbang deptan, 2013).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Lahan merupakan bagian dari bentang alam (landscape) yang
mencakup pengertian lingkungan fisik termasuk iklim, topografi/relief, tanah,
hidrologi, dan bahkan keadaan vegetasi alami (natural vegetation) yang semuanya
secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan (FAO, 1976). Lahan
dalam pengertian yang lebih luas termasuk yang telah dipengaruhi oleh berbagai
aktivitas flora, fauna dan manusia baik di masa lalu maupun saat sekarang,
seperti lahan rawa dan pasang surut yang telah direklamasi atau tindakan
konservasi tanah pada suatu lahan tertentu. Penggunaan yang optimal memerlukan
keterkaitan dengan karakteristik dan kualitas lahannya. Hal tersebut disebabkan
adanya keterbatasan dalam penggunaan lahan sesuai dengan karakteristik dan
kualitas lahannya, bila dihubungkan dengan pemanfaatan lahan secara
lestari dan berkesinambungan (Litbang, deptan. 2013).
Pada peta tanah atau
peta sumber daya lahan, hal tersebut dinyatakan dalam satuan peta yang
dibedakan berdasarkan perbedaan sifat-sifatnya terdiri atas: iklim, landform
(termasuk litologi, topografi/relief), tanah dan/atau hidrologi. Pemisahan
satuan lahan/tanah sangat penting untuk keperluan analisis dan interpretasi
potensi atau kesesuaian lahan bagi suatu tipe penggunaan lahan
(Lahan Utilization Types = LUT) (Litbang, deptan. 2013).
Evaluasi lahan memerlukan sifat-sifat fisik lingkungan suatu
wilayah yang dirinci ke dalam kualitas lahan (land qualities), dan setiap
kualitas lahan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan (land
characteristics). Beberapa karakteristik lahan umumnya mempunyai hubungan satu
sama lainnya di dalam pengertian kualitas lahan dan akan berpengaruh terhadap
jenis penggunaan dan/atau pertumbuhan tanaman dan komoditas lainnya yang
berbasis lahan (peternakan, perikanan, kehutanan). Penggunaan lahan untuk
pertanian secara umum dapat dibedakan atas: penggunaan lahan semusim, tahunan,
dan permanen. Penggunaan lahan tanaman semusim diutamakan untuk tanaman musiman
yang dalam polanya dapat dengan rotasi atau tumpang sari dan panen dilakukan
setiap musim dengan periode biasanya kurang dari setahun. Penggunaan lahan
tanaman tahunan merupakan penggunaan tanaman jangka panjang yang pergilirannya
dilakukan setelah hasil tanaman tersebut secara ekonomi tidak produktif lagi,
seperti pada tanaman perkebunan. Penggunaan lahan permanen diarahkan pada lahan
yang tidak diusahakan untuk pertanian, seperti hutan, daerah konservasi,
perkotaan, desa dan sarananya, lapangan terbang, dan pelabuahan
(Litbang, deptan. 2013).
Indonesia memiliki
banyak potensi dan sumber daya alam yang belum dikembangkan secara maksimal,
termasuk didalamnya di sektor pariwisata. Untuk lebih memantapkan pertumbuhan
sektor pariwisata dalam rangka mendukung pencapaian sasaran pembangunan,
sehingga perlu diupayakan pengembangan produk-produk yang mempunyai keterkaitan
dengan sektor pariwisata. Pengembangan kepariwisataan berkaitan erat dengan
pelestarian nilai-nilai kepribadian dan pengembangan budaya bangsa, dengan
memanfaatkan seluruh potensi keindahan dan kekayaan alam Indonesia. Dengan
diberlakunya otonomi daerah, diharapkan mendorong setiap daerah untuk
mendayagunakan lahan secara optimal dan bijaksana dikarenakan lahan merupakan
sumberdaya untuk pembangunan dan pengembangan di berbagai sektor termasuk
sektor pariwisata. Salah satu daerah di Jawa Timur yang sedang mengembangkan
potensi wilayahnya yaitu Kabupaten Jember.
Jember memiliki sumber
daya alam yang sangat potensial. Selain kekayaan alam hayati, Jember juga
memiliki objek-objek wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi. Salah
satu wisata yang akan dikembangkan saat ini oleh pemerintah daerah Kabupaten
Jember yaitu Desa Kemuninglor sebagai objek agrowisata. Ada beberapa objek
wisata yang saat ini sering 2
dikunjungi. Salah satunya yaitu bukit Rembangan. Dan
ada juga beberapa objek wisata lain yang bisa juga dijadikan daya tarik untuk
meningkatkan pendapatan daerah yaitu perkebunan kopi dan perkebunan buah naga
yang bisa dijadikan sebagai objek agrowisata.. Sebagaimana sektor lainnya, dalam rangka
mendukung pengembangan sektor pariwisata khususnya penyediaan sarana dan
prasarana fisik sangat diperlukan evaluasi lahan pada suatu kawasan yang akan
direncanakan agar dalam pengembangannya dapat berhasil dengan baik. Berdasarkan
informasi inilah dimungkinkan penggunaan lahan untuk sarana dan prasarana fisik
bangunan sebagai pendukung pengembangan pariwisata dapat dilakukan secara
optimal.
Menurut Sitorus (1985)
evaluasi kemampuan lahan sifatnya masih umum bila dibandingkan dengan evaluasi
kesesuaian lahan, sehingga dalam penelitian ini pariwisata yang dimaksud tidak
mengklasifikasikan jenis pariwisata tertentu. Ada pun cara untuk mengevaluasi
sumber daya lahan adalah membandingkan persyaratan yang diperlukan untuk
penggunaan tertentu dengan sifat sumber daya yang ada pada lahan tersebut.
BAB III
KESIMPULAN
Dari
pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Kemampuan Lahan merupakan lahan potensial untuk
budidaya pertanian. karakteristik
lahan umumnya mempunyai hubungan satu sama lainnya di dalam pengertian kualitas
lahan dan akan berpengaruh terhadap jenis penggunaan dan/atau pertumbuhan
tanaman dan komoditas lainnya yang berbasis lahan (peternakan, perikanan,
kehutanan). Penggunaan lahan untuk pertanian secara umum dapat dibedakan atas:
penggunaan lahan semusim, tahunan, dan permanen. Penggunaan lahan tanaman
semusim diutamakan untuk tanaman musiman yang dalam polanya dapat dengan rotasi
atau tumpang sari dan panen dilakukan setiap musim dengan periode biasanya
kurang dari setahun.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Samrumi,
2012. Online. http://samrumi.blogspot.com/2012/07/kualitas-dan-karakteristik-lahan.html
Hendro,
Murtianto. Online. http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/LAINNYA/HENDRO_MURTIANTO/03_Evaluasi_Kemampuan_Lahan.pdf
LAMPIRAN
EVALUASI KEMAMPUAN LAHAN UNTUK
MENDUKUNG PENGEMBANGAN PARIWISATA DENGAN MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT
Oleh:
Felik Dwi Yoga Prasetya, Khomsin. ST. MT
Jurusan Teknik Geomatika FTSP-ITS, Surabaya, 60111,
Indonesia
Email: fdy.prasetya@gmail.com, Khomsin95@yahoo.com
Abstrak
Kabupaten Jember memiliki potensi pariwisata yang
cukup banyak, seperti wisata pegunungan ataupun wisata pantainya. Hal ini
mengakibatkan banyaknya objek-objek wisata yang sangat menarik untuk
dikunjungi. Salah satu wisata yang akan dikembangkan dalam kepariwisataannya
saat ini oleh pemerintah daerah yaitu Desa Kemuninglor. Desa ini terletak di
daerah perbukitan dan memiliki panorama alam yang cukup menarik. Dalam
perkembangannya, diperlukan evaluasi kemampuan lahan untuk mengetahui upaya
pemanfaatan sumberdaya lahan sesuai dengan potensinya.
Dalam penelitian
ini digunakan parameter fisik lahan yaitu tutupan lahan, kemiringan
lereng,kenampakan erosi, jenis tanah, dan drainase untuk mengetahui kemampuan
lahan dalam mendukung pengembangan pariwisata di Desa Kemuninglor. Data yang
digunakan adalah data citra ASTER tahun 2008 dan peta tematik DAS Bedadung
tahun 2009, khususnya peta erosi, peta jenis tanah, peta kemiringan lereng dan
peta curah hujan. Metode yang digunakan dengan menginterpretasi citra satelit
dan pengamatan lapangan yang didasarkan pada analisis keruangan beserta
penggabungan tumpang susun peta (overlay). Unit lahan digunakan sebagai satuan
pemetaan untuk mengetahui kemampuan lahan untuk pariwisata dengan Metode
skoring
Dari hasil
penelitian didapatkan gambaran wilayah yang akan dilakukan pengembangan
pariwisata. Kelas kemampuan lahan untuk daerah penelitian ini : kelas II dengan
luas area 45,98 Ha, kelas III dengan luas area 992,47 Ha dan kelas IV dengan
luas area 64,91 Ha. Untuk hasil evaluasi kemampuan lahan yang mendukung untuk pengembangan
pariwisata terdapat di sebagian besar dusun Rayap karena memiliki daya dukung
baik serta terdapat area tutupan lahan yang sebagian besar berupa perkebunan
dan lahan kosong.
Kata Kunci : Pengembangan Pariwisata, Kemampuan Lahan,
Metode Skoring
PENDAHULUAN
Latar belakang
Indonesia memiliki
banyak potensi dan sumber daya alam yang belum dikembangkan secara maksimal,
termasuk didalamnya di sektor pariwisata. Untuk lebih memantapkan pertumbuhan
sektor pariwisata dalam rangka mendukung pencapaian sasaran pembangunan,
sehingga perlu diupayakan pengembangan produk-produk yang mempunyai keterkaitan
dengan sektor pariwisata. Pengembangan kepariwisataan berkaitan erat dengan
pelestarian nilai-nilai kepribadian dan pengembangan budaya bangsa, dengan memanfaatkan
seluruh potensi keindahan dan kekayaan alam Indonesia. Dengan diberlakunya
otonomi daerah, diharapkan mendorong setiap daerah untuk mendayagunakan lahan
secara optimal dan bijaksana dikarenakan lahan merupakan sumberdaya untuk
pembangunan dan pengembangan di berbagai sektor termasuk sektor pariwisata.
Salah satu daerah di Jawa Timur yang sedang mengembangkan potensi wilayahnya
yaitu Kabupaten Jember. Sebagaimana sektor lainnya, dalam rangka mendukung
pengembangan sektor pariwisata khususnya penyediaan sarana dan prasarana fisik
sangat diperlukan evaluasi lahan pada suatu kawasan yang akan direncanakan agar
dalam pengembangannya dapat berhasil dengan baik. Berdasarkan informasi inilah
dimungkinkan penggunaan lahan untuk sarana dan prasarana fisik bangunan sebagai
pendukung pengembangan pariwisata dapat dilakukan secara optimal.
Menurut
Sitorus (1985) evaluasi kemampuan lahan sifatnya masih umum bila dibandingkan
dengan evaluasi kesesuaian lahan, sehingga dalam penelitian ini pariwisata yang
dimaksud tidak mengklasifikasikan jenis pariwisata tertentu. Ada pun cara untuk
mengevaluasi sumber daya lahan adalah membandingkan persyaratan yang diperlukan
untuk penggunaan tertentu dengan sifat sumber daya yang ada pada lahan
tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar